PACARAN DI TEPI CISADANE
Aji dan Nadia, mahasiswa semester lima dan tiga, duduk di tanggul Cisadane setiap Jumat malam. Es teh pinggir jalan, satu gelas dipakai berdua.
DITULIS 5 JULI 2026 · 271 KATA
Aji 21 tahun, mahasiswa teknik sipil semester lima di kampus negeri di Tangerang Kota. Nadia 19 tahun, mahasiswa akuntansi semester tiga di kampus swasta yang sama-sama di Tangerang Kota. Pacaran sejak Aji semester tiga. Sudah dua tahun.
Setiap Jumat malam — selain jika ada UTS atau musim hujan deras — mereka ketemu di tanggul Cisadane sebelah jembatan Cikokol. Lokasi tetap: bangku semen di tikungan jalan setapak, di atas tanggul yang menghadap aliran sungai dan kota.
Dibawa: dua HP, satu power bank, satu gelas es teh tawar yang dibeli di gerobak Mbak Asih di ujung tanggul (5 ribu — naik dari 4 ribu tahun lalu).
Yang dilakukan: ngobrol, scroll TikTok bersama dengan satu earphone dibagi dua, foto-foto langit (yang jarang bagus tapi tetap dia upload), kadang diam saja melihat air Cisadane mengalir gelap di bawah.
Aji anak tunggal. Bapak kerja di kantor pemerintahan Tangerang, ibu PNS dosen. Tinggal di kompleks Karawaci. Nadia anak ketiga dari empat. Bapak sopir taksi online, ibu jualan online. Tinggal di kontrakan dua petak di Periuk.
Yang Aji dan Nadia tidak ceritakan satu sama lain: Nadia sebenarnya tidak bisa lanjut kuliah kalau bapaknya tidak dapat tambahan order minggu depan. Aji sebenarnya tidak tertarik teknik sipil — bapaknya yang minta. Mereka belum saling cerita karena belum tahu cara.
Pukul setengah sepuluh malam Aji antar Nadia ke pertigaan Cipondoh. Lalu Nadia naik angkot ke Periuk. Aji pulang ke Karawaci sendiri.
Sebelum pisah, Nadia tanya, “Aji, lima tahun lagi kita di mana ya?”
Aji tertawa kecil. Tidak menjawab.
Es teh tinggal sepertiga. Aji habiskan sendiri di motor, sambil pulang lewat jalan Boulevard.
Hujan tipis mulai turun di tanggul yang sudah kosong.
DITULIS OLEH Iqbal Maulana