CERITA
TANGERANG

RISO ZINE · ED. PERTAMA · 2026

← Daftar isi

№ 24

BALIHO CALEG DI PINTU AIR CURUG

Pak Hasanudin pasang baliho caleg di tiang pintu air Curug. Bukan karena pendukung — bayarannya 75 ribu per titik.

Pak Hasanudin pasang baliho caleg di tiang pintu air Curug, dekat jembatan kecil yang menyeberangi anak Cisadane. Sudah 11 tahun dia jadi pemasang baliho lepas. Empat musim pemilu sudah dilewati.

Tarifnya: 75 ribu per titik untuk baliho ukuran 3x4 meter, 50 ribu untuk yang 2x3, 25 ribu untuk yang spanduk biasa. Dibayar tunai oleh tim sukses, biasanya di warung kopi Bu Eli di pertigaan menuju Binong.

Pagi ini Pak Hasanudin pasang tiga baliho caleg DPRD provinsi di sepanjang jalan menuju pintu air. Pakai bambu yang dia tebang sendiri di kebun belakang rumah, paku 5 cm beli di toko Sumber Jaya, dan tali rafia warna kuning.

Yang Pak Hasanudin tahu setelah 11 tahun: baliho yang dipasang di tiang pintu air paling cepat hilang. Tiga hari, paling lama. Bukan karena angin — karena warga sekitar ambil terpalnya untuk tutup gerobak atau atap kandang ayam. Tim sukses paham. Mereka tetap bayar.

Penghasilan Pak Hasanudin selama musim kampanye: bisa 4 juta sebulan. Di luar musim: balik jadi tukang bersih-bersih kebun, 80 ribu sehari, itu pun kalau ada panggilan. Istrinya jualan gorengan di depan pintu air, 30-50 ribu sehari.

Anaknya tiga. Yang pertama sudah lulus SMK, kerja di pabrik sepatu Cikupa. Yang kedua kelas 2 SMA. Yang ketiga kelas 5 SD.

Pak Hasanudin tidak pernah mencoblos satu pun caleg yang balihonya dia pasang. Bukan karena benci — karena tidak hafal. Wajah-wajah itu terlalu mirip baginya. Senyum lebar, baju putih, latar belakang merah atau kuning atau hijau.

Yang dia ingat hanya berapa baliho yang dia pasang minggu itu, dan kapan tim sukses akan transfer.


Sopir Truk Pasir Cilegon-BSD

Caleg Keliling Pasar Cisoka

↑ Daftar isi