PAK HAJI YANG JUALAN BENSIN ECERAN
Pak Haji di pertigaan Curug jualan bensin di botol kaca pakai gembok. Pelanggan tetapnya: motor-motor yang tidak mau ke Pertamina karena malas.
DITULIS 22 MEI 2026 · 256 KATA
Pak Haji punya warung kecil di pertigaan Curug. Di depan warungnya, sebuah meja kayu dengan enam botol kaca bekas Bir Bintang yang sekarang berisi bensin. Botol ditutup dengan corong plastik yang dimasukkan ke dalam. Di samping botol, sebuah lemari kayu kecil yang digembok — di situ Pak Haji simpan jeriken bensin dua puluh liter.
Pelanggan Pak Haji ada dua tipe. Tipe pertama: motor yang kehabisan bensin sebelum sampai Pertamina. Tipe kedua: motor yang sebenarnya bisa sampai Pertamina, tapi malas. Tipe kedua lebih banyak. Pak Haji tidak protes.
Harga bensin di Pak Haji: tiga ribu lebih mahal per liter dari Pertamina. Pelanggan tahu. Pelanggan bayar. Pak Haji tahu pelanggan tahu, dan pelanggan tahu Pak Haji tahu pelanggan tahu. Itu kontrak sosial yang tidak perlu diomongkan.
Yang paling Pak Haji suka adalah pelanggan-pelanggan rutin. Ada Pak Anto yang lewat setiap Selasa pagi pukul tujuh, pasti beli dua liter sebelum ke kantor di BSD. Ada Bu Lina yang lewat Senin sore, beli satu liter karena motornya cuma untuk antar-jemput anak ke TK. Pak Haji hafal jadwal mereka. Dia tidak menyiapkan secara khusus — tapi kalau Pak Anto belum datang sampai pukul tujuh lima belas, Pak Haji akan sedikit khawatir.
Suatu hari Pak Anto tidak datang. Pak Haji menunggu sampai pukul sembilan. Tidak datang. Selasa berikutnya, Pak Anto datang lagi, normal. Pak Haji tidak bertanya. Tapi dia kasih cuma-cuma satu pelampung permen ke Pak Anto, tanpa bilang apa-apa.
Pak Anto menerima permen itu, paham, mengangguk, lalu naik motor lagi ke BSD.
Pak Haji ingat hari itu, lebih lama daripada Pak Anto.