CERITA
TANGERANG

RISO ZINE · ED. PERTAMA · 2026

← Daftar isi

№ 01

PASAR ANYAR, SENJA

Pak Wahyu menutup gerobak tahunya jam lima sore, ketika langit Tangerang sudah berubah warna ke jingga yang dipinjam dari sate sebelah.

Pak Wahyu menutup gerobak tahunya pukul lima sore. Tidak pernah lebih cepat, tidak pernah lebih lambat. Ini bukan kebiasaan; ini hampir kewajiban moral. Pukul lima, langit Tangerang berubah jingga, dan jingga itu — Pak Wahyu yakin — dipinjam dari nyala bara sate yang ada di seberang.

Pasar Anyar bukan pasar yang besar. Tiga puluh kios, satu lorong, satu kran air umum yang sudah enam bulan rusak. Kalau Anda lewat depan Pasar Anyar dengan mobil, Anda tidak akan tahu ada pasar di belakang ruko-ruko itu — gerbangnya sempit, terhalang gerobak buah dan motor yang parkir asal.

Pak Wahyu jualan di sini sejak 1989. Tahu yang dia masak sendiri di rumahnya di Kelurahan Babakan. Setiap subuh dia bawa ke pasar pakai motor butut. Setiap senja dia pulang dengan tahu tersisa, paling banyak lima, paling sedikit nol. Hari ini tersisa tiga. Hari ini hari yang biasa-biasa saja.

Dia menutup gerobak dengan satu papan kayu yang sudah diikat dengan tali nilon. Tali itu sudah putus berkali-kali dan disambung dengan ikatan yang berbeda-beda — yang paling baru pakai tali sepatu hitam yang dia ambil dari sepatu lama anaknya.

Anak Pak Wahyu kerja di Karawaci, di kantor consulting. Sekali sebulan datang membawa amplop tipis. Pak Wahyu menerima, mengucapkan terima kasih, dan tidak pernah buka amplopnya di depan anaknya. Bukan karena tidak butuh — karena buka amplop di depan anak adalah cara cepat membuat anak merasa kasihan, dan dikasihani adalah hal yang Pak Wahyu hindari sebisa mungkin.

Senja itu, sebelum pulang, dia berhenti di gerobak sate sebelah. Pak Anwar yang jualan, sebaya dengan dia. “Beli satu, Pak. Buat di rumah.”

Anwar menggeleng. “Bawa dua, gratis yang satu. Kita sudah jualan tiga puluh tahun. Cukup adil.”

Pak Wahyu menerima dua tusuk dengan dua tangan, mengangguk pelan. Pulang sambil jalan kaki, motornya ditinggal — supaya tahu yang tersisa di gerobak bisa diberi ke siapa saja yang masih lewat sebelum dia kembali besok.


Bus Patas Poris ke Bogor

↑ Daftar isi