CERITA
TANGERANG

RISO ZINE · ED. PERTAMA · 2026

← Daftar isi

№ 73

TUKANG KAYU BAKAR CISAUK

Pak Riyadi cari kayu bakar di hutan kecil sekitar Cisauk. Jual ke warung makan di Suradita 12 ribu per ikat. Sehari empat ikat kalau beruntung.

Pak Riyadi 41 tahun, pencari kayu bakar di Cisauk. Setiap pagi pukul setengah enam dia jalan ke hutan kecil di pinggir Cisauk yang berjarak 3 km dari rumah kontrakannya di Suradita. “Hutan” itu sebenarnya kebun rakyat dan tanah belum dibangun, tempat masih banyak pohon karet liar, pohon mangga tua, dan semak belukar.

Alat: parang dan kapak kecil yang dia bawa di tas kain, tali rafia warna kuning untuk ikat kayu, sarung tangan kulit yang sudah belang.

Yang dia kumpulkan: ranting jatuh, dahan kering, batang pohon karet tua yang sudah mati. Tidak menebang pohon hidup. Beberapa pemilik kebun memberi izin untuk ambil yang sudah jatuh asal Pak Riyadi membantu bersihkan semak sekalian.

Sehari Pak Riyadi bisa kumpulkan 4-6 ikat kayu bakar, masing-masing seukuran sekitar 8 kilo. Diangkut pakai gerobak dorong yang dia bikin sendiri dari kayu. Total angkutan per perjalanan: 30-50 kilo. Pulang pukul sebelas siang.

Pelanggan tetap: tiga warung makan padang di Suradita, satu warung sate di Cisauk, satu pemilik kambing di kampung sebelah yang pakai untuk masak. Harga: 12 ribu per ikat. Penjualan harian: 48-72 ribu. Sebulan: 1.4-2 juta.

Pak Riyadi juga kerja serabutan sore — bantu bersih-bersih kebun, panggil panggilan ke kerja proyek pasangan bata kecil. Total penghasilan sebulan: 3-4 juta.

Istri Pak Riyadi, Bu Sumiyem, jualan kue di sekolah dasar dekat rumah. Anak dua: SMP dan SD.

Yang Pak Riyadi amati setiap pagi saat masuk hutan: pohon-pohon yang dia kenal sejak 2015 — yang mangganya dulu rimbun, yang karetnya dulu lurus — beberapa sudah ditebang habis tahun lalu untuk perluasan cluster perumahan baru.

Hutan ini akan habis dalam lima tahun, tebakan Pak Riyadi.

Setelah itu, dia tidak tahu.


Nelayan Tangerang Pagi

Satpam Perumahan Griya

↑ Daftar isi