PENGRAJIN ANYAMAN BAMBU PASAR LAMA TANGERANG
Aku Pak Darma, 63, menganyam bambu di sudut Pasar Lama sejak tanganku belum sekeras sekarang — di zaman plastik yang murah dan cepat, aku masih menunggu satu orang yang mau belajar.
DITULIS 20 JULI 2026 · 1058 KATA
Pukul 06:30. Pasar Lama baru mulai bernapas, tapi tanganku sudah mulai bekerja.
Namaku Darma. Umurku enam puluh tiga tahun. Aku pengrajin anyaman bambu, dan lapakku ada di sudut yang sama sejak — entahlah, sejak aku masih bisa jongkok berjam-jam tanpa lututku protes.
Lapakku bukan toko. Cuma hamparan terpal di bawah atap seng, di antara penjual sayur dan tukang parut kelapa. Di belakangku, gulungan bilah bambu yang sudah aku raut semalam. Di depanku, dagangan hari ini: beberapa besek, tampah, tudung saji, satu-dua keranjang buah. Semuanya aku buat sendiri. Tidak ada yang beli jadi, tidak ada yang mesin.
Aku duduk di dingklik kayu rendah, ambil dua bilah, dan mulai menyilang. Jari-jariku bergerak tanpa aku suruh.
Ayahku yang mengajariku. Dulu, di kampung, sebelum kami pindah ke Tangerang.
Aku ingat aku masih kecil, mungkin sepuluh tahun, duduk di sampingnya sambil melihat tangannya menari di antara bilah bambu. Waktu itu aku tidak sabar — aku mau langsung bisa bikin keranjang. Tapi ayahku tidak mengajari anyaman dulu. Ia mengajari aku memilih bambu.
“Yang tua, Ma,” katanya. “Yang mudanya nanti getas, patah waktu diraut.”
Lalu ia ajari aku membelah. Lalu meraut, tipis, rata, sampai halus tidak melukai tangan. Butuh berbulan-bulan sebelum ia mengizinkan aku menyentuh anyaman sungguhan. Aku baru mengerti sekarang: yang ia wariskan bukan cuma cara membuat keranjang. Ia mewariskan kesabaran.
Tanganku hari ini adalah tangannya. Setiap silangan yang aku buat, ada gerakan yang ia tanam puluhan tahun lalu.
Pagi ini pembeli pertamaku seorang ibu penjual gorengan.
“Pak, beseknya sepuluh ya. Yang kecil buat bungkus risol.”
Aku hitung, aku ikat pakai tali rafia. Ibu itu langganan lama. Ia masih pakai besek karena katanya minyaknya turun, gorengannya tidak becek seperti kalau pakai mika plastik. Aku senang orang seperti dia masih ada.
Tapi aku tidak bodoh. Aku tahu dia satu dari sedikit.
Di seberang jalan, ada toko plastik. Isinya keranjang plastik warna-warni, besek plastik, tampah plastik. Harganya separuh dari buatanku. Ringan, tidak berjamur, bisa dicuci. Orang datang, lihat punyaku, tanya harga, lalu lihat yang plastik, dan pergi ke sana.
Aku tidak bisa marah. Kalau aku jadi mereka, dengan uang belanja yang pas-pasan, mungkin aku juga pilih yang murah.
Yang orang tidak tahu adalah berapa lama satu barang ini dibuat.
Satu tampah yang aku jual, itu bukan pekerjaan sejam. Sebelum aku menganyam, aku sudah pergi cari bambu yang bagus — sekarang tidak dekat lagi, harus pesan orang yang bawa dari luar kota. Aku belah, aku raut satu per satu, aku jemur. Baru aku anyam. Untuk yang halus, bisa seharian penuh, kadang lebih.
Kalau aku hitung upah tanganku per jam, tidak ada masuk akalnya. Plastik dicetak ribuan sehari oleh mesin; punyaku dianyam satu-satu oleh orang tua yang matanya sudah mulai kabur kalau kurang cahaya.
Tapi ada yang tidak dipunyai plastik. Kalau besekku sudah tidak terpakai, ia kembali jadi tanah. Kalau plastik itu dibuang, ia akan ada lebih lama daripada aku, mungkin lebih lama daripada cucuku. Itu aku tahu betul, walau aku tidak pernah sekolah tinggi.
Siang, dagangan sepi. Aku istirahat, seduh kopi dari termos yang aku bawa dari rumah.
Anak-anakku sudah besar semua. Yang sulung kerja di pabrik di Cikupa. Yang tengah dagang pulsa dan sekarang jual online. Yang bungsu masih kuliah, dibantu kakak-kakaknya. Tidak ada satu pun yang mau menganyam.
Aku tidak menyalahkan mereka. Aku pernah bilang ke si bungsu, setengah bercanda, “Kamu belajar ini, Le, nanti terusin bapak.” Ia tertawa, sopan, tapi aku lihat di matanya: ia tidak melihat masa depan di terpal ini. Dan aku mengerti. Aku sendiri tidak mau anakku duduk di dingklik ini sampai tua dengan penghasilan yang tidak menentu.
Jadi begitulah. Keterampilan yang ayahku wariskan turun sampai ke aku — dan mungkin berhenti di aku.
Itu yang paling berat. Bukan plastik. Bukan bambu yang makin mahal. Tapi pikiran bahwa ketika tanganku sudah tidak kuat lagi, tidak ada tangan lain yang meneruskan.
Sore, menjelang pasar tutup, ada yang berhenti di depan lapakku.
Anak muda, bawa kamera. Katanya mahasiswa, sedang bikin tugas soal kerajinan tradisional. Ia minta izin foto, lalu duduk, bertanya banyak. Bagaimana caranya, sudah berapa lama, dari mana belajarnya.
Aku layani. Jarang ada yang bertanya, jadi aku senang cerita. Bahkan aku ajak ia coba pegang bilah, aku tunjukkan silangan pertama. Tangannya kaku, hasilnya berantakan, dan kami berdua tertawa.
Sebelum pergi ia bilang, “Keren, Pak. Sayang kalau hilang.”
Aku cuma mengangguk. Di dalam hati aku ingin bilang: kalau memang sayang, jangan cuma difoto. Datang lagi. Belajar. Satu orang saja cukup.
Tapi aku tidak bilang. Aku sudah terlalu tua untuk berharap terlalu keras.
Pukul 17:00, aku mulai beres-beres.
Barang yang tidak laku aku masukkan karung. Terpal aku lipat. Dingklik aku ikat di belakang. Kakiku pegal, punggungku kaku dari duduk membungkuk seharian. Tapi tanganku, anehnya, tidak pernah lelah. Tangan ini seperti tidak tahu cara berhenti.
Aku pikul daganganku, jalan pelan ke arah pulang. Pasar Lama mulai gelap di belakangku.
Aku tidak tahu berapa lama lagi aku bisa begini. Mungkin sepuluh tahun, mungkin lebih pendek. Tapi selama tanganku masih bisa menyilang bambu, aku akan datang. Bukan karena untungnya — untungnya kecil. Tapi karena selama aku masih menganyam, warisan ayahku belum benar-benar hilang.
Dan siapa tahu, suatu hari, anak muda pembawa kamera itu datang lagi. Bukan untuk memotret.
Untuk belajar.
DITULIS OLEH Iqbal Maulana