PETANI SAWAH CURUG
Pak Markun petani sawah di Curug, dua hektar warisan keluarga. Bertani sambil mengamati pengembang yang sudah membeli tanah tetangga sebelah.
DITULIS 16 JULI 2026 · 272 KATA
Pak Markun 51 tahun, petani sawah di Curug, dapil Binong. Lahan dia dua hektar, warisan kakeknya yang membuka di sini tahun 1958. Letaknya di pinggir sungai kecil yang bermuara ke Cisadane, dikelilingi sawah-sawah lain yang jumlahnya makin lama makin sedikit.
Sawah Pak Markun produktif. Satu musim tanam: 110 hari. Hasil rata-rata: 5.8 ton gabah kering per hektar. Total per musim: 11.6 ton. Tiga musim setahun: 34 ton. Jual ke tengkulak: 6 ribu per kilo. Kotor: 200 juta setahun. Bersih setelah biaya: 75-90 juta.
Yang berubah dalam lima tahun: tanah pertanian di sekitar Pak Markun makin sedikit. Tetangga sebelah, Pak Hasan, jual 1.5 hektar tahun 2023 ke pengembang dari Jakarta — 1.2 miliar per hektar, total 1.8 miliar. Sekarang tanah itu menjadi gudang logistik.
Tetangga di seberang sungai, Pak Hamid, jual 3 hektar tahun 2024 — 1.4 miliar per hektar, total 4.2 miliar. Sekarang ditimbun dan diratakan untuk cluster perumahan baru.
Pengembang dari Jakarta sudah dua kali datangi rumah Pak Markun. Tawaran terakhir: 1.6 miliar per hektar, total 3.2 miliar. Bayar tunai dalam tiga bulan.
Pak Markun belum jawab. Bukan karena tidak butuh uang. Karena dia tidak tahu mau ngapain setelah tanahnya jual.
Anak Pak Markun dua: yang sulung pegawai pabrik elektronik di Curug, yang bungsu kuliah di Universitas Tangerang. Tidak ada yang mau bertani.
Yang Pak Markun amati setiap pagi saat turun ke sawah: hawa dingin pagi yang dia tahu dari kecil, suara burung gereja yang bertambah sedikit setiap tahun, suara mesin bulldozer dari proyek di seberang sungai yang dimulai pukul tujuh.
Sawahnya masih tumbuh padi. Sawah tetangga sudah jadi beton.
Pak Markun belum siap memilih.
Padi sudah menguning, panen seminggu lagi.
DITULIS OLEH Iqbal Maulana