TUKANG PERAHU TANJUNG KAIT
Pak Asnawi tukang perahu di muara Tanjung Kait, sewa perahu kecil 80 ribu per dua jam. Pelanggan: pemancing weekend dan pasangan muda yang ingin foto sunset.
DITULIS 17 JULI 2026 · 274 KATA
Pak Asnawi 56 tahun, tukang perahu sewa di muara pantai Tanjung Kait, Mauk. Punya dua perahu kayu kecil: yang besar (4.8 meter, kapasitas 6 orang) dan yang kecil (3.5 meter, kapasitas 3 orang). Mesin: tempel Yamaha 4 PK untuk yang besar, motor diesel 2 PK untuk yang kecil.
Tarif sewa: 80 ribu per dua jam untuk perahu kecil, 120 ribu per dua jam untuk yang besar, plus 35 ribu untuk solar (kalau pelanggan minta dia yang nyetir). Kalau pelanggan bawa pancing sendiri dan minta diantar ke tengah, tambahan 50 ribu untuk umpan dan stop ke spot.
Pelanggan harian: 3-8 grup di Sabtu-Minggu, 0-2 grup di hari biasa. Penghasilan harian: 240-720 ribu kotor, bersih setelah solar dan oli: 150-500 ribu.
Pelanggan tetap Pak Asnawi: dua komunitas mancing dari Jakarta yang datang setiap minggu pertama (booking lewat WhatsApp), beberapa pasangan muda yang ingin foto sunset dengan latar perahu di air (mereka tidak perlu nyetir, cuma duduk).
Yang Pak Asnawi tahu setelah 28 tahun di perahu: cuaca laut Tangerang berubah sejak 2018. Angin barat yang dulu jelas datang November, sekarang bisa datang Oktober atau menetap sampai April. Ombak yang dulu jinak sepanjang tahun, sekarang ada hari-hari di luar musim yang tiba-tiba besar.
Anak Pak Asnawi tiga: yang sulung sopir truk antar pelabuhan, yang tengah ibu rumah tangga di Cikupa, yang bungsu kuliah keperawatan di Tangsel. Tidak ada yang mau jadi tukang perahu.
Istri Pak Asnawi, Bu Sumi, jualan kerupuk ikan di Pasar Mauk. Penghasilan 120-200 ribu sehari.
Sore ini Sabtu. Tiga grup pemancing dari Jakarta sudah berangkat sejak siang. Mereka akan kembali pukul setengah enam, sebelum gelap.
Pak Asnawi duduk di dermaga, menunggu, satu rokok di tangan.
DITULIS OLEH Iqbal Maulana