DEMO BBM DI CIKOKOL
Pak Heru ikut demo kenaikan BBM di simpang Cikokol, ditemani tiga teman sopir angkot. Pulang lebih cepat karena harus narik sore.
DITULIS 13 JUNI 2026 · 270 KATA
Pak Heru 41 tahun, sopir angkot 04 jurusan Cikokol-Karawaci. Sudah 17 tahun narik di trayek yang sama. Pagi ini, Rabu, dia ikut demo kenaikan BBM di simpang Cikokol bersama tiga teman sopir — Pak Made, Pak Slamet, dan Pak Yatno.
Demo dimulai pukul sembilan, sekitar 200 orang dari berbagai organisasi sopir angkot, ojol, dan buruh pabrik. Spanduk dari MMT, sound dari truk Colt Diesel yang biasa dipakai pasang baliho. Toa setengah karatan. Tuntutannya: cabut kenaikan, subsidi tepat sasaran, audit Pertamina.
Pak Heru bukan orator. Dia bukan organisator. Dia datang karena dipanggil koordinator paguyuban sopir angkot Tangerang, dan karena selisih BBM minggu ini menggerus penghasilannya 70-90 ribu sehari. Dari biasa pulang ke rumah bawa 180 ribu, sekarang 100 ribu kalau ramai, 70 ribu kalau sepi.
Yang Pak Heru lakukan selama demo: berdiri di belakang barisan, pegang spanduk yang dipasangkan teman, sesekali ikut teriak “Hidup buruh!” tapi tidak sekencang yang lain. Pukul sebelas dia pamit pulang. Harus narik sore. Cicilan kontrakan jatuh tempo Jumat.
Yang Pak Heru pikirkan saat naik motor pulang ke rumah di Cibodas: 17 tahun dia narik angkot. Lima kali demo BBM. Setiap kali, harga turun sebentar, lalu naik lagi enam bulan kemudian. Sekali demo dia patah hidung kena lemparan batu dari belakang barisan, 2014. Sampai sekarang tulangnya bengkok.
Istri Pak Heru kerja di pabrik kertas Karawaci, gaji 4.6 juta sebulan. Dua anak — yang besar SMP, yang kecil SD. Kalau angkot tidak laku, gaji istri jadi penyangga.
Sore hari Pak Heru narik dari Cikokol ke Karawaci, melewati simpang yang tadi pagi penuh orang demo. Sudah bersih. Tinggal stiker partai di tiang lampu lalu lintas, sudah mengelupas di tepinya.
DITULIS OLEH Iqbal Maulana