PEMULUNG CIKOKOL, ANAK YANG SEKOLAH DI KARDUS
Pak Sumarno mengumpulkan kardus bekas di Cikokol. Anaknya, sembilan tahun, belajar membaca dari merek-merek di kardus itu — Indomie, Bear Brand, Pepsodent.
DITULIS 18 MEI 2026 · 308 KATA
Pak Sumarno pemulung. Dia tinggal di gubuk dari triplek di belakang Pasar Cikokol, bersama anaknya yang sembilan tahun, Rizki. Istrinya pulang ke kampung tahun lalu untuk merawat ibunya yang stroke, dan sejak itu belum kembali — bukan karena tidak mau, karena tidak punya ongkos pulang Jakarta-Banyumas.
Setiap pagi pukul tiga, Pak Sumarno keliling Cikokol dan Cipondoh dengan gerobaknya. Pukul tujuh dia pulang. Pukul setengah delapan, Rizki berangkat sekolah — kelas tiga SD negeri di belakang pasar, jarak jalan kaki lima menit.
Rizki tidak punya buku bacaan di rumah. Bukan karena tidak suka — karena tidak ada uang. Pak Sumarno suatu hari, saat Rizki masih TK, tanpa sengaja menemukan: anaknya belajar membaca sendiri dari merek-merek yang tertulis di kardus.
Indomie. Bear Brand. Pepsodent. Sariwangi. Indofood. Aqua. Sosro. Kapal Api.
Kardus-kardus itu adalah pelajaran membaca pertama Rizki. Pak Sumarno melihat, dan tanpa diminta, mulai menyimpan kardus-kardus dengan tulisan paling besar dan paling jelas di pojok gubuk. Tidak dijual. Walaupun harga kardus per kilo lumayan — terutama yang masih bagus — Pak Sumarno menahan.
Sekarang Rizki sudah bisa membaca lancar. Sudah baca buku perpustakaan sekolah. Sudah baca koran bekas yang dipungut bapaknya. Tapi kardus-kardus itu — yang sudah berdebu, sudah robek di ujung — Pak Sumarno simpan terus. Tidak dijual.
Suatu malam, Rizki bertanya, “Pak, kenapa kardus-kardus ini tidak dijual? Kan harga kardus naik.”
Pak Sumarno menjawab, sambil masak mie instan untuk makan malam mereka, “Itu sekolah pertamamu, Rizki. Bapak tidak menjual sekolah.”
Rizki diam. Lalu mengangguk. Lalu lanjut baca buku perpustakaan yang dia pinjam — sebuah dongeng tentang anak yang menemukan negeri ajaib di belakang lemari.
Pak Sumarno melihat anaknya membaca, dan untuk sekejap dia merasa kaya — kaya dalam pengertian yang tidak bisa ditampilkan ke siapa pun, hanya kaya yang dia simpan di gubuknya sendiri, dengan kardus-kardus berdebu yang menjadi sekolah pertama anaknya.