CERITA
TANGERANG

RISO ZINE · ED. PERTAMA · 2026

← Daftar isi

№ 77

KASIR SUPERMARKET TANGERANG CITY

Aku Sari, 24, kasir di supermarket dalam mal Tangerang City — delapan jam berdiri, ribuan barang di-scan, dan kaki yang mulai bicara sebelum mulut sempat mengeluh.

Pukul 09:45. Mal belum ramai, tapi aku sudah berdiri di depan konter selama satu jam.

Namaku Sari, 24 tahun. Aku kasir di supermarket yang ada di dalam Tangerang City. Bukan yang di lantai dasar dekat pintu utama — yang di lantai atas, dekat area food court, tempat orang belanja sambil dorong troli setelah makan siang.

Seragamku warna gelap dengan tanda pengenal terjepit di dada kiri. Rambut diikat. Sepatu hitam yang solnya sudah aku ganti sekali sejak masuk kerja setahun lalu. Aku datang jam 08:30, absen, ambil laci uang dari supervisor, hitung modal awal, lalu berdiri.

Berdiri. Itu kata yang paling jujur untuk menggambarkan pekerjaanku.


Pembeli pertama pagi ini seorang ibu dengan troli setengah penuh.

Aku sapa, “Selamat pagi, ada member card, Bu?”

Ia menggeleng, meletakkan barang satu per satu di sabuk konter. Aku ambil, aku scan. Bip. Susu kotak. Bip. Roti tawar. Bip. Sabun cuci, dua sachet kopi, telur satu tray. Tanganku bergerak sendiri — ambil, putar cari barcode, dekatkan ke pemindai, dengar bunyinya, geser ke sisi kiri. Ambil, putar, scan, geser.

Aku tidak perlu berpikir untuk melakukan ini lagi. Tubuhku yang tahu.

“Semuanya seratus dua puluh tiga ribu lima ratus, Bu.”

Ia bayar tunai, uang seratus lima puluh ribu. Aku hitung kembalian di kepala sebelum mesin selesai — dua puluh enam ribu lima ratus — lalu aku hitung lagi di tangan sebelum aku serahkan. Dua kali. Selalu dua kali. Karena kalau kurang, itu keluar dari kantongku sendiri di akhir shift.

“Terima kasih, Bu. Ditunggu kedatangannya lagi.”

Kalimat itu keluar otomatis. Tapi aku usahakan tetap ada senyum di baliknya. Itu bagian yang tidak ada di deskripsi kerja, tapi ada di dalam diriku.


Jam sepuluh lewat, antrean mulai memanjang.

Ini bagian yang orang tidak lihat: saat lima troli mengantre, aku tidak boleh terlihat panik. Tanganku harus cepat, tapi tidak boleh salah. Mataku baca layar, cek harga yang kadang tidak sesuai promo, panggil pramuniaga lewat interkom kalau ada barang tanpa barcode, sambil tetap menyapa orang berikutnya.

Seorang bapak di antrean ketiga mulai gelisah, lihat jam tangannya berkali-kali.

“Mbak, bisa cepat nggak? Saya buru-buru.”

Aku tetap tersenyum. “Sebentar ya, Pak. Ini barangnya perlu dicek harga dulu.”

Di dalam, aku bukan tidak lelah. Aku juga ingin cepat. Tapi cepat yang salah lebih mahal daripada lambat yang benar. Jadi aku tetap dengan ritmeku. Bip. Bip. Bip. Barangnya aku tata sekalian saat men-scan — yang berat di bawah, yang mudah penyok di atas — supaya kantongnya rapi. Itu kebiasaan kecil yang tidak diminta siapa-siapa. Tapi aku suka.

Bapak itu akhirnya bayar, ambil kantong, pergi tanpa bilang apa-apa. Tidak apa-apa. Tidak semua orang harus bilang terima kasih. Aku tetap bilang.


Pukul 12:30, giliran istirahat. Tiga puluh menit.

Aku duduk. Untuk pertama kalinya dalam empat jam, aku duduk.

Rasanya kakiku baru bicara sekarang, setelah dari tadi ditahan. Betis terasa penuh, telapak kaki panas seperti habis jalan jauh padahal aku cuma pindah dari konter ke ruang istirahat karyawan di belakang gudang. Aku lepas sepatu diam-diam di bawah meja, gerak-gerakkan jari kaki.

Teman satu shift-ku, Mbak Rina, duduk di sebelah dengan bekal nasi dari rumah.

“Rame ya tadi,” katanya.

“Tanggal tua malah rame,” aku jawab, buka bekalku sendiri — nasi, telur balado, sambal yang aku bikin semalam.

Kami tidak banyak ngobrol. Tiga puluh menit itu terlalu berharga untuk dihabiskan dengan basa-basi. Aku makan cepat, minum air putih dua gelas — karena berdiri lama bikin lupa minum — lalu menyandarkan punggung ke dinding dan memejamkan mata sebentar.

Alarm di handphone-ku berbunyi. 12:58. Aku pakai sepatu lagi. Berdiri lagi.


Sore hari orang-orangnya berbeda.

Pagi didominasi ibu rumah tangga dan pensiunan yang belanja santai. Sore, mulai masuk karyawan kantoran yang mampir sebelum pulang, anak kuliah beli cemilan, pasangan muda dengan troli kecil isi mi instan dan minuman.

Ada satu pelanggan yang aku hafal — mbak-mbak kantoran yang hampir tiap sore beli satu botol air, satu roti, dan satu buah apel. Selalu sama. Ia tidak banyak bicara, tapi selalu bilang “makasih, Mbak” dengan menatap mataku, bukan menatap layar handphone-nya. Hal sekecil itu bisa mengubah rasa satu shift.

“Kayak biasa ya, Mbak?” aku sapa.

Ia tersenyum, agak kaget aku ingat. “Iya, kayak biasa.”

Aku scan tiga barang itu — bip, bip, bip — sebut totalnya, terima uang pas. Ia sudah tahu harganya, selalu siapkan uang pas. Kami tidak kenal nama masing-masing. Tapi ada semacam kesepakatan diam di antara kami: bahwa dua orang yang sama-sama capek bisa saling memperlakukan sebagai manusia, bukan sebagai transaksi.


Pukul 16:30, shift-ku selesai.

Aku hitung isi laci — uang tunai, struk, semua harus cocok sampai rupiah terakhir. Malam ini pas. Tidak lebih, tidak kurang. Aku hela napas lega yang tidak kelihatan.

Supervisor terima laciku, tanda tangan, “Oke, Sar. Besok pagi lagi ya.”

“Siap, Pak.”

Aku ganti baju di loker, keluar lewat pintu belakang mal ke arah halte. Kakiku masih terasa penuh, tapi aku sudah terbiasa. Ada rasa yang tidak bisa aku jelaskan ke orang yang bilang, “Ah, cuma kasir.” Bahwa aku pegang uang orang seharian dan tidak pernah kurang. Bahwa aku scan ribuan barang tanpa salah harga. Bahwa aku tetap tersenyum ke orang yang tidak tersenyum balik.

Itu pekerjaan. Pekerjaan yang benar.

Di halte, aku duduk — untuk kedua kalinya hari ini. Kakiku bersyukur. Bus jurusan rumahku belum datang. Aku lihat orang-orang lewat, dorong troli, jinjing kantong belanja.

Sebagian dari kantong itu, aku yang tata tadi. Mereka tidak tahu. Tidak apa-apa. Aku tahu.


Pemuda Dropshipper Pasar Lama

Pengrajin Anyaman Bambu Pasar Lama Tangerang

↑ Daftar isi