CERITA
TANGERANG

RISO ZINE · ED. PERTAMA · 2026

← Daftar isi

№ 72

NELAYAN TANGERANG PAGI

Pak Sumardi melaut pagi-pagi dari Tanjung Kait. Pulang pukul sembilan, ikan dia bawa langsung ke Pasar Mauk. Cuaca pagi ini cerah, hasilnya 17 kilo.

Pak Sumardi 39 tahun, nelayan pantai Tanjung Kait yang khusus melaut shift pagi. Berangkat pukul empat dini hari, pulang pukul sembilan pagi. Berbeda dengan kebanyakan nelayan Tanjung Kait yang melaut malam, Pak Sumardi pilih pagi karena dia bisa pulang masih ada waktu untuk antar anak ke sekolah.

Perahu: kayu sepanjang 5.2 meter, motor diesel 12 PK, jaring nilon 60 meter. Awak: dia sendiri. Tidak ada yang dibawa karena perahu kecil dan hasil tangkapan tidak sebesar shift malam.

Rute: 4-6 km dari pantai, ke arah barat daya, ke karang dangkal yang masih ada ikan kecil seperti teri, kembung muda, dan udang kecil yang tertangkap di jaring.

Hasil rata-rata per pagi: 12-20 kilo. Jual langsung ke Pasar Mauk yang berjarak 4 km dari dermaga — biasanya selesai sebelum pukul sebelas. Harga jual: 18-28 ribu per kilo tergantung jenis dan kesegaran. Pendapatan kotor: 250-450 ribu. Bersih: 150-300 ribu.

Yang Pak Sumardi pilih dengan melaut pagi: dia bisa antar anak sulung (Rasyid, 8 tahun) ke SD Negeri di Mauk pukul setengah tujuh. Dia bisa makan siang di rumah dengan istrinya, Bu Hasanah. Dia bisa tidur siang dan main sore dengan anak kedua (Salma, 5 tahun).

Yang Pak Sumardi korbankan: pendapatan. Nelayan malam Tanjung Kait bisa pulang dengan 25-40 kilo per malam, dua kali lipat dia. Tapi mereka tidur siang, hidup terpisah dari rutinitas keluarga.

Pagi ini cerah. Hasil tangkapan: 17 kilo (campur teri dan kembung). Pak Sumardi balik ke dermaga pukul sembilan tepat. Ke Pasar Mauk pukul sepuluh.

Pukul sebelas Pak Sumardi sudah duduk di teras rumah, kopi panas di tangan. Rasyid pulang sekolah pukul dua belas.

Pak Sumardi menunggu, sambil menjemur jaring di pekarangan.


Pemulung Cisoka Malam

Tukang Kayu Bakar Cisauk

↑ Daftar isi