PEMUDA DROPSHIPPER PASAR LAMA
Rizal, 22, merekam kain di toko orang tuanya yang sudah tutup — dan angka TikTok Shop-nya hampir menyaingi toko yang sama.
DITULIS 29 JUNI 2026 · 1043 KATA
Pukul 21:00. Toko sudah tutup dua jam lalu.
Rizal menyalakan ring light yang ia beli seharga Rp 75.000 dari marketplace — bulat kecil, duduk di atas tripod pendek yang ia rakit sendiri dari pipa paralon dan bracket bekas. Cahaya putihnya memantul ke gulungan kain di rak belakang, mengubah warna yang di siang hari terlihat biasa menjadi sesuatu yang lebih bersih, lebih layak foto.
Ia berdiri di depan rak itu dengan teleponnya, menggeser sudut beberapa derajat, lalu merekam.
Toko kain keluarganya di Pasar Lama sudah ada sejak ia belum lahir. Ayahnya yang mewarisi dari kakeknya, memperluas sedikit, mempertahankan pelanggan lama yang datang karena sudah tahu tempatnya. Toko itu buka dari pagi sampai sore, enam hari seminggu, tutup hari Minggu. Rak penuh kain batik, kain polos, kain tenun berbagai lebar dan corak. Aromanya campuran kapas, pewarna, dan udara Pasar Lama yang tidak pernah berubah.
Rizal tumbuh di lantai atas toko ini. Kamarnya di atas gudang.
Pagi harinya, ia membantu ayahnya.
Bukan karena dipaksa — sudah jadi ritme. Toko buka jam 08:00, ia sudah di bawah jam 07:45, membantu membuka rolling door, mengecek stok yang kemarin sempat habis, melayani pelanggan yang datang awal sebelum pasar ramai. Ia tahu di mana setiap rol kain disimpan. Tahu mana batik cap mana batik tulis. Tahu pelanggan mana yang suka nawar dan mana yang langsung bayar.
Tapi siang hari, setelah jam tiga, gilirannya sendiri.
Ia pergi ke belakang — atau kadang langsung ke kamarnya — membuka laptop, dan mengurus TikTok Shop-nya.
Page-nya sudah dua tahun berdiri. Nama toko: KainNusantaraID. Produk yang ia jual: kain yang sama persis dengan yang ada di toko orang tuanya. Tapi fotonya berbeda. Deskripsinya berbeda. Cara ia menyebutkan bahan, ukuran, tekstur — lebih detail, lebih visual, ditulis untuk orang yang tidak pernah pegang kainnya langsung.
“Batik tulis motif parang, 2,5 meter, bahan primissima adem di badan — cocok untuk seragam kantor atau kondangan formal.”
Kalimat itu ia tulis sendiri. Ayahnya tidak pernah tahu kalimat itu ada.
Masalahnya sederhana: ayahnya tidak percaya ini adalah pekerjaan.
Bukan marah — ayahnya bukan tipe yang marah. Tapi waktu Rizal pertama kali bilang ia punya toko online, ayahnya mengangguk dan langsung bicara soal hal lain. Iseng-iseng, begitu kata yang ia dengar kemudian dari ibunya. Bahwa ayahnya bilang ke om-nya: “Rizal lagi iseng-iseng jualan online.”
Ibunya lebih langsung. Suatu malam waktu mereka makan bertiga:
“Rizal, mau sampai kapan di rumah terus? Teman-temannya udah pada kerja.”
“Aku kerja, Bu.”
Ibunya tidak menjawab. Tapi tatapannya ke piring mengandung kalimat yang tidak perlu diucapkan: kerja yang dimaksud adalah kerja yang keluar rumah, punya jabatan, punya ID card, punya tempat yang bisa disebutkan ke tetangga.
Rizal tidak melanjutkan. Ia tahu penjelasan panjang tidak akan mengubah banyak. Yang akan mengubah adalah angka — dan angkanya belum cukup besar untuk diperlihatkan.
Bulan lalu, TikTok Shop-nya menghasilkan Rp 8,5 juta.
Setelah komisi platform, biaya pengiriman yang sebagian ia tanggung sendiri untuk menjaga harga kompetitif, dan biaya beli stok dari toko — ia ambil dengan harga internal, bukan harga jual ke pelanggan, tapi tetap ia hitung sebagai pengeluaran — bersih di sekitar Rp 5,8 juta.
Toko fisik, bulan yang sama: Rp 11 juta. Itu angka yang ia tahu dari buku catatan ayahnya — bukan karena dikasih tahu, tapi karena ia yang sering mencatat transaksi sore hari.
Jarak itu makin sempit. Rizal tahu. Tapi ia tidak bilang ke siapa pun.
Malam itu, seorang pembeli mengirim pesan.
“Kak, ada kain batik motif sidomukti nggak? Yang warna soga, buat baju adat Jawa pernikahan.”
Rizal membaca pesannya, mengetik cepat: Sebentar ya kak, saya cek ke supplier dulu.
Ia membuka WhatsApp, cari kontak supplier batik Solo yang ayahnya pernah kenalkan dua tahun lalu — orang yang biasa kirim kain ke toko, tidak pernah tahu Rizal juga menjual kainnya secara online. Ia kirim foto referensi, tanya stok dan harga.
Dua puluh menit kemudian: ada. Minimal order satu rol.
Rizal kembali ke TikTok Shop, balas pembeli: Kak, ada. Tapi pengiriman 3-5 hari kerja karena khusus order, dan harganya sedikit lebih tinggi dari yang di toko. Saya kirimkan detailnya ya.
Transaksi selesai dalam satu jam.
Ini adalah bagian dari kerja yang tidak bisa ia jelaskan ke ibunya dengan cara yang mudah dimengerti: ia bukan hanya jual kain. Ia juga tahu cara menemukan kain yang tidak ada di rak, menghubungkan orang yang punya kebutuhan spesifik dengan supplier yang tepat, dan mengurus semuanya dari kamar di lantai dua toko keluarganya.
Tidak ada jabatan untuk itu. Tidak ada ID card.
Tengah malam. Reel sudah selesai diedit — tiga puluh detik, slow motion kain digelar di atas meja, suara background musik instrumen ringan yang lagi trending. Caption ia tulis singkat: Kain batik tulis asli, stok terbatas, DM untuk ukuran custom.
Ia tekan post.
Sebelum menutup laptop, ia membuka laci meja — di bawah charger dan nota-nota lama — dan mengeluarkan buku catatan tebal dengan sampul hitam. Buku ledger toko ayahnya. Bukan yang asli — itu disimpan di brankas bawah meja kasir. Ini fotokopi yang ia buat diam-diam bulan lalu, tiga bulan terakhir.
Ia buka ke halaman terakhir. Angka-angka dalam tulisan tangan ayahnya: rapi, konsisten, sistem yang tidak berubah selama dua puluh tahun.
Di kepalanya, ia bandingkan. Bukan untuk merayakan atau merasa lebih baik — hanya untuk tahu posisinya. Untuk tahu berapa jauh lagi.
Toko fisik masih lebih besar. Tapi selisihnya bukan lagi lipat dua atau tiga. Selisihnya sekarang adalah angka yang bisa ia kejar dalam beberapa bulan, kalau reel-nya jalan, kalau supplier tetap responsif, kalau ia tidak membuat kesalahan yang mahal.
Ia menutup buku itu, memasukkan kembali ke laci.
Lampu kamar dimatikan. Di luar, Pasar Lama sudah sepi — hanya suara satu-dua motor yang lewat di jalan besar, dan di lantai bawah, stok kain dalam kegelapan yang menunggu pagi.
DITULIS OLEH Iqbal Maulana