BANJIR CILEDUG, PERAHU KERTAS
Air sudah satu meter, dan Naufal — sembilan tahun — masih main perahu kertas. Bagi orang dewasa: bencana. Bagi anak: hari libur.
DITULIS 23 MEI 2026 · 268 KATA
Air di Gang Mawar III sudah satu meter sejak pukul tujuh pagi. Sekolah SD libur — papan tulis di pos kamling sudah tertulis “Hari ini libur, jangan ditanya lagi.” Sebagian besar orang dewasa di gang itu dalam mode evakuasi: angkat barang ke lantai dua, telepon kantor untuk lapor terlambat, ribut dengan pasangan tentang siapa yang terlambat angkat sertifikat ke plastik.
Naufal sembilan tahun. Dia tidak ribut.
Dia menemukan plastik bekas pembungkus kue Lebaran tahun lalu yang sudah disimpan ibunya untuk lipatan-lipatan. Plastik itu tebal, warna kuning emas, ujungnya keriting karena sudah lama. Naufal melipatnya jadi perahu kertas — bukan kertas, tapi prinsipnya sama. Dia membuat lima. Diberi nama satu-satu: Tono, Tini, Bambang, Diah, Pak RT.
Naufal duduk di teras yang sudah jadi semacam dermaga. Air di kakinya sampai betis. Dia menjalankan lima perahunya satu per satu di permukaan air keruh.
“Tono lari paling cepat. Lihat, dia ngalahin Bambang!”
Ibunya, dari jendela lantai dua, melihat. Dia tidak menyuruh Naufal masuk. Dia membiarkan. Karena Naufal tidak akan ingat banjir ini sebagai bencana — dia akan ingat sebagai hari saat perahu plastik Tono ngalahin Bambang di lomba balap dadakan.
Naufal akan dewasa, akan pindah dari Ciledug, akan mungkin tinggal di apartemen yang tidak pernah banjir. Tapi dia akan menyimpan ingatan ini sebagai hari yang menyenangkan. Itu kekuatan anak-anak: mengubah hal-hal yang membuat orang dewasa stres menjadi sumber kegembiraan yang murni.
Ibunya menutup jendela. Di balik kaca, dia tersenyum kecil. Lalu dia menelepon kantor lagi, kali ini dengan suara yang sedikit lebih sabar.
Banjir bukan tentang banjir. Banjir tentang siapa yang masih bisa main perahu sambil air sudah sampai betis.