TUKANG CETAK DAAN MOGOT
Toko percetakan Pak Sidik menolak digital sejak 1995. Sekarang dia satu-satunya yang masih bisa cetak undangan pernikahan di kertas khusus.
DITULIS 21 MEI 2026 · 281 KATA
Pak Sidik buka toko percetakan di Jalan Daan Mogot sejak 1985. Empat puluh tahun. Anaknya sudah pernah pindah ke Jakarta jadi grafik designer di startup besar, lalu pulang lagi tahun lalu karena tidak tahan dengan jam kerja. Sekarang anaknya bantu Pak Sidik di toko — tapi Pak Sidik yang mengoperasikan mesin cetak offset, mesin yang dia beli tahun 1995 dan menolak menggantinya dengan digital.
“Digital tidak punya jiwa,” kata Pak Sidik kalau ditanya. “Warna digital itu… terlalu sempurna. Tidak ada bayangan tinta. Tidak ada misregister kecil yang membuat undangan terasa seperti undangan.”
Pelanggan Pak Sidik sekarang khusus: pasangan yang ingin undangan pernikahan dengan cetakan offset asli. Biasanya orang Tionghoa-Indonesia keluarga lama yang masih simpan tradisi, atau pengantin muda hipster yang membayar dua kali lipat untuk authenticity. Pak Sidik tidak peduli motivasi mereka. Dia hanya peduli kalau pesanannya lebih dari seratus undangan dan punya margin yang masuk akal.
Anaknya bantu desain di Adobe Illustrator. Dia siapkan file. Pak Sidik kemudian print test di kertas biasa, periksa dengan kaca pembesar, lalu mengatur tinta di mesin satu per satu. Empat warna — biru, merah, kuning, hitam — empat passing terpisah. Setiap passing harus pas alignment-nya. Satu mm meleset, undangan akan terlihat seperti riso zine yang sengaja artsy — tapi itu bukan apa yang pelanggan bayar.
Pak Sidik bekerja delapan jam untuk seratus undangan. Anaknya — yang dulu di startup biasa kerja delapan jam untuk menyelesaikan satu landing page A/B test — sekarang melihat ayahnya bekerja dengan tinta hijau di tangannya dan berpikir: ada hal-hal yang tidak perlu cepat. Ada hal-hal yang justru karena lambatnya, jadi punya nilai.
Lalu anak Pak Sidik kembali bantu print test, dan menerima bahwa pulang dari startup bukan kekalahan.