CERITA
TANGERANG

RISO ZINE · ED. PERTAMA · 2026

← Daftar isi

№ 46

PENGAMEN STASIUN TIGARAKSA

Yopi 19 tahun, ngamen di peron Stasiun Tigaraksa sejak SMP. Lagu andalan: Iwan Fals, satu-dua D'Masiv, sesekali Tulus.

Yopi 19 tahun, ngamen di peron Stasiun Tigaraksa. Mulai dari kelas dua SMP, ikut kakak sepupu yang dulu ngamen di sini. Sekarang sepupu sudah kerja di pabrik kabel Cikupa. Yopi masih di peron.

Alat: gitar akustik Yamaha second yang dia beli 480 ribu di toko musik Pasar Anyar tahun 2022. Senarnya dia ganti sendiri, satu bulan sekali, 35 ribu per set. Pakai pick warna oranye yang sudah aus.

Lagu yang dia hafal: Iwan Fals (Bento, Kemesraan, Bongkar), Slank dua-tiga lagu, D’Masiv (Cinta Ini Membunuhku), Tulus (Hati-Hati di Jalan), Naif (Mobil Balap). Yopi belajar dari YouTube — buka di HP saudaranya, hafal akord, latihan di kamar.

Penghasilan: 60-110 ribu sehari, tergantung jadwal kereta. Kereta paling rame penumpang Jumat sore — yang pulang dari Jakarta ke Tigaraksa setelah seminggu kerja. Yopi pasti standby pukul empat sore di peron arah Maja.

Rute Yopi: dari gerbong yang ramai, nyanyi satu lagu lengkap, lalu jalan ke gerbong berikutnya pas kereta nyala lagi. Kalau kereta antar Tigaraksa-Parungpanjang, jarak waktunya 11 menit — cukup untuk dua gerbong.

Yang Yopi terima dari penumpang: rata-rata 2-5 ribu per orang yang mau ngasih. Yang ngasih kira-kira 1 dari 8 penumpang. Itu pun banyak yang kasih lewat aplikasi e-wallet — Dana, OVO, ShopeePay — yang Yopi tampilkan QR-nya tertempel di sticker di belakang gitar.

Yopi tidak sekolah lagi setelah SMP. Ibu jualan kelontong di gang sempit Tigaraksa. Bapak sudah pisah delapan tahun, tidak tahu di mana.

Yang Yopi tabung dari ngamen: 800 ribu sebulan, masuk rekening Mandiri ATM. Untuk apa, dia tidak tentu. Belum ada cita-cita.

Hari ini Senin. Kereta pertama pukul setengah enam.


Tukang Bakso Bintaro Lurus

Nenek Warung Cisauk Empat Puluh Tahun

↑ Daftar isi