NENEK WARUNG CISAUK EMPAT PULUH TAHUN
Mbah Inah buka warung kelontong di pinggir jalan Cisauk-Suradita sejak 1986. Sudah 40 tahun. Pelanggannya sekarang anak-cucu pelanggan pertama.
DITULIS 24 JUNI 2026 · 278 KATA
Mbah Inah 68 tahun, pemilik warung kelontong di pinggir jalan Cisauk menuju Suradita. Buka sejak 1986, saat usianya 28 tahun, suaminya almarhum Pak Kasmin baru jadi sopir truk pasir.
Warung itu sederhana: papan triplek dipaku ke tiang kayu, atap asbes, lantai tanah. Dua etalase kaca berisi rokok, permen, dan biskuit. Tiga rak kayu tempel di dinding untuk mie instan, kopi sasetan, kecap, beras kemasan kecil.
Pelanggan pertama Mbah Inah tahun 1986: Pak Sahidi yang waktu itu masih bujang, sopir truk yang lewat tiap pagi. Sekarang Pak Sahidi sudah pensiun, ke warung Mbah Inah dengan cucunya yang TK. Tiga generasi.
Modal awal 1986: 50 ribu rupiah. Sekarang nilai persediaan warung sekitar 8 juta — selalu putar, jarang stagnan. Penghasilan harian: 80-150 ribu kotor, bersih sekitar 40-80 ribu.
Buku utang Mbah Inah: dua buku tulis ukuran folio yang sudah lecek, dipenuhi tulisan tangan dia sendiri — tulisan miring agak susah dibaca. Tertua tahun 1992. Termuda kemarin sore. Utang yang belum lunas dari tahun 1990-an dia tidak coba tagih lagi. Pelanggannya sudah pindah ke Jakarta, atau meninggal.
Tahun 2023 menantunya, Mas Adi, datang dari kota dengan ide: pasang QRIS. Mbah Inah awalnya menolak. Setelah dijelaskan tiga hari berturut-turut, dia setuju. Sekarang ada stiker QRIS BCA Mobile di tiang warung, ditempel pakai isolatif.
Setengah pelanggan masih bayar tunai. Setengahnya scan QRIS. Mbah Inah tidak bisa membaca aplikasi BCA Mobile sendiri. Setiap malam dia titip HP ke menantu untuk dicek saldonya.
Yang Mbah Inah tahu dari warungnya 40 tahun: yang bertahan bukan yang paling cepat berubah. Yang bertahan adalah yang tetap buka, hari demi hari, walau hujan, walau jalan ditutup karena proyek tol.
Hari ini pukul setengah lima sore, Pak Sahidi datang lagi.
DITULIS OLEH Iqbal Maulana