STASIUN TIGARAKSA, PERON 2
Dia menunggu KRL menuju Tanah Abang. Di peron seberang, perempuan yang dia kira sudah pindah ke Australia tahun lalu.
DITULIS 25 MEI 2026 · 276 KATA
Reza menunggu KRL menuju Tanah Abang. Stasiun Tigaraksa pagi hari biasanya sepi — beda dengan Stasiun Maja yang sudah penuh sejak pukul lima. Tigaraksa hanya punya satu peron yang ramai, dan itu peron 1, arah Jakarta.
Tapi pagi itu, dia melihat ke peron 2. Peron arah Maja-Rangkasbitung, arah yang biasanya hanya ada satu-dua orang. Di peron itu, berdiri sendirian, perempuan dengan koper kecil dan ransel di punggung. Postur tubuhnya, cara berdirinya, cara dia memegang gagang koper dengan dua tangan — Reza kenal posisi itu.
Itu Nadia. Pacar Reza selama empat tahun di kuliah. Putus tahun 2023 karena Nadia diterima beasiswa S2 di Melbourne, dan mereka berdua sepakat bahwa long distance empat tahun terlalu lama. Nadia berangkat. Reza tinggal di Tangerang, kerja di kantor consulting di SCBD.
Reza mengira Nadia masih di Melbourne. Instagram-nya last post enam bulan lalu, foto langit di Sydney. Setelah itu tidak ada update.
Sekarang Nadia berdiri di peron 2 Stasiun Tigaraksa, menunggu KRL ke arah Rangkasbitung. Apa yang dia lakukan di sana? Tigaraksa bukan kampung halamannya — kampungnya di Cirebon. Dan kenapa dia menuju Rangkasbitung, bukan ke Jakarta?
KRL Reza datang lebih dulu. Pintu terbuka. Dia ragu sebentar. Naik atau panggil dia dulu?
Dia naik. Karena memanggil dia akan butuh keberanian yang Reza tidak pasti dia punya pagi itu. Karena Nadia mungkin sedang dalam keadaan yang Reza tidak mau jadi bagiannya. Karena Tigaraksa peron 2 bukan tempat untuk reuni yang baik.
KRL berangkat. Dia menatap dari jendela. Nadia tidak menoleh. Mungkin dia tidak melihat Reza. Mungkin dia melihat dan memilih untuk tidak melihat balik. Reza tidak akan pernah tahu.
Dan itu, mungkin, hal terbaik yang bisa terjadi pagi itu.