SPANDUK CALEG RUSAK PAMULANG
Pak Marno tukang sapu jalan Pamulang menemukan spanduk caleg robek di selokan. Dia kumpulkan, lipat, dan simpan — bukan untuk kampanye, untuk atap kandang ayam.
DITULIS 7 JUNI 2026 · 272 KATA
Pak Marno 58 tahun, tukang sapu jalan di Pamulang sektor 4, gaji 1.8 juta sebulan dari pemerintah daerah Tangsel. Sudah 14 tahun dia menyapu rute yang sama: dari Pasar Pamulang sampai pertigaan menuju Reni Jaya.
Pagi ini, Senin, tiga hari setelah hujan deras, dia menemukan tiga spanduk caleg robek di selokan. Spanduk kain MMT, ukuran 1x3 meter, dua wajah berbeda. Pak Marno mengangkatnya satu per satu, peras airnya, lipat rapi, masukkan ke karung putih.
Penemuan spanduk-spanduk caleg adalah bonus pendapatan musim kampanye. Spanduk MMT bisa dipakai untuk: atap kandang ayam, tutup gerobak, alas tidur tukang ojek, tirai jendela rumah, terpal pengganti waktu hujan. Pak Marno sendiri pakai untuk atap kandang ayam dan tutup tumpukan kayu bakar.
Empat tahun lalu, satu spanduk caleg DPRD bahkan dia pakai sebagai tirai dapur. Wajah caleg itu — Pak Anu, dari partai berlatar biru — selama dua tahun jadi pemandangan istrinya saat masak.
Caleg itu tidak terpilih.
Yang Pak Marno tahu setelah 14 tahun nyapu jalan: spanduk caleg paling banyak ditemukan minggu pertama setelah pencoblosan. Tim sukses tidak bersihkan. Mereka sudah pindah ke kontrak berikutnya. Sisa-sisa kampanye jadi sampah kota yang harus dia angkut.
Penghasilan tambahan dari spanduk: tidak banyak. Kalau dijual ke pengepul rongsok di Ciputat, 5 ribu per kilo. Pak Marno jarang menjual. Dia simpan untuk pakai sendiri atau bagi ke tetangga yang butuh.
Sore hari, di rumah kontrakan dua petak di belakang Pasar Pamulang, Pak Marno menggelar tiga spanduk yang dia ambil tadi. Dia potong sesuai ukuran. Yang terbesar untuk atap kandang. Yang sedang untuk tetangga sebelah yang minggu lalu bilang dapurnya bocor.
Kandang ayamnya kini diawasi wajah caleg yang tidak pernah dia kenal.
DITULIS OLEH Iqbal Maulana