CERITA
TANGERANG

RISO ZINE · ED. PERTAMA · 2026

← Daftar isi

№ 53

GURU MENGAJI PAMULANG SUBUH

Ustadz Mahmud mengajar mengaji anak-anak di Mushala Al-Ikhlas Pamulang setelah Subuh dan setelah Maghrib. SPP sukarela. Bertahan dari iuran wali murid.

Ustadz Mahmud 54 tahun, guru mengaji di Mushala Al-Ikhlas RW 03 Pamulang sejak 1998. Mengajar dua kelas: setelah Subuh (anak SD kelas 1-3) dan setelah Maghrib (anak SD kelas 4-6 dan SMP).

Jumlah murid: 47 orang antara dua kelas. Mayoritas anak warga sekitar mushala. Beberapa anak dari Reni Jaya yang diantar ortu pakai motor.

Iuran: tidak ada SPP tetap. Sukarela. Rata-rata wali murid memberi 50-100 ribu sebulan dalam amplop. Beberapa wali kasih lebih (200-300 ribu). Beberapa tidak kasih sama sekali — mereka yang sudah tiga bulan menunggak Ustadz Mahmud tidak mengusir.

Total iuran masuk per bulan: 2.8-3.4 juta. Cukup untuk biaya hidup Ustadz Mahmud dan istrinya, Bu Siti, yang ibu rumah tangga sambil jualan kue di warung depan rumah.

Anak Ustadz Mahmud dua: yang sulung kerja di kantor pemerintahan Banten, gaji 6 juta, kirim ke ortu 1.5 juta sebulan; yang bungsu kuliah semester lima di UIN Jakarta, biayanya dibantu kakak sulung.

Yang Ustadz Mahmud ajarkan: tahsin Quran, hafalan juz 30, akhlak dasar, tata cara wudhu dan sholat. Pakai metode iqra’ jilid 1-6. Buku iqra’ dia beli dari hibah toko buku islam di Ciputat — 12 jilid bekas, dia salin ulang yang sobek.

Yang Ustadz Mahmud amati setelah 28 tahun mengajar: anak-anak Pamulang sekarang sudah hafal lagu TikTok lebih dulu daripada surat Al-Fatihah. Mereka datang ke mushala sambil scroll HP — orang tua yang menyuruh, mereka belum tentu mau.

Tapi setiap subuh, 18 anak duduk di lantai mushala, kepala menunduk, baca iqra’ dengan suara tertahan. Mereka di sana karena disuruh. Tapi mereka di sana.

Ustadz Mahmud tidak punya tabungan. Tidak punya BPJS. Tidak punya jaminan hari tua.

Yang dia punya: nama 47 anak yang dia hafal satu per satu.


Nelayan Pantai Tanjung Kait

Tukang Roti Keliling Cibodas

↑ Daftar isi