ANAK SMA PAMULANG PULANG NAIK SEPEDA
Dimas, kelas dua SMA Negeri 3 Pamulang, pulang naik sepeda federal merek bekas yang dibeli ayahnya di Pasar Loak Ciputat 2018.
DITULIS 21 JUNI 2026 · 270 KATA
Dimas 16 tahun, kelas dua IPA SMA Negeri 3 Pamulang. Pulang sekolah pukul setengah empat sore, jalur dari sekolah ke rumah di Bambu Apus sejauh 4.2 km. Naik sepeda federal warna biru pudar yang dibeli ayahnya, Pak Suparman, di Pasar Loak Ciputat tahun 2018, harga 350 ribu.
Sepeda itu sudah dia pakai sejak kelas enam SD. Sudah ganti rantai tiga kali (35 ribu per ganti di bengkel sepeda Mas Edi), ganti rem dua kali, jok satu kali. Cat aslinya warna biru tua sekarang sudah belang.
Teman-teman Dimas di SMA: 23 dari 36 di kelasnya naik motor sendiri — Vario, BeAT, Scoopy, beberapa Mio. Yang naik sepeda hanya empat. Sisanya diantar orang tua atau naik angkot.
Ayah Dimas, Pak Suparman, kerja di toko bangunan di Pondok Cabe, gaji 3.4 juta sebulan. Ibu, Bu Sumiati, jualan gorengan di depan rumah sore-sore, penghasilan 60-100 ribu sehari. Dimas anak pertama. Adiknya dua: SMP dan SD.
Yang Dimas pikirkan saat ngontel pulang: ulangan matematika besok yang dia belum belajar. PR kimia yang belum dia kerjakan. Pesan Bu Maemunah, guru BK, supaya dia ikut bimbel UTBK SNBT — yang dia tidak punya uang untuk bayar.
Jalan dari Pamulang ke Bambu Apus melewati Pasar Pamulang yang ramai pulang sekolah. Dimas berhenti sebentar di tukang gorengan langganan, beli dua tempe mendoan 5 ribu, makan di tepi trotoar.
Yang sebelahnya, anak SMA lain pakai seragam batik yang sama, baru turun dari motor Vario, beli minuman boba 25 ribu. Tidak saling tegur — mereka beda angkatan.
Dimas pelan-pelan ngontel ke rumah. Sepeda federal-nya berbunyi di rantai — perlu diolesi pelumas akhir pekan ini.
Cita-citanya kuliah teknik mesin di kampus negeri.
DITULIS OLEH Iqbal Maulana