TUKANG SOL SEPATU KARANG TENGAH
Pak Mahmud sudah empat puluh tahun nyolot sepatu di pojok pasar. Sekarang dia menerima dua jenis pelanggan: yang sepatu mahal dan yang sepatu satu-satunya.
DITULIS 24 MEI 2026 · 245 KATA
Pak Mahmud sudah empat puluh tahun nyolot sepatu di pojok Pasar Karang Tengah. Lapaknya hanya sebesar dua meja kayu — di atasnya alat-alat jadul: tang, gunting kulit, lem, jarum, benang nilon, dan satu mesin jahit kaki yang dia warisi dari ayahnya.
Pelanggan Pak Mahmud sekarang ada dua jenis.
Jenis pertama: orang dengan sepatu mahal yang sayang dibuang. Sneakers limited edition yang sol-nya jebol — biasanya dibawa anak muda yang naik mobil sendiri, baju kerja kantoran, dan ngecek alat Pak Mahmud sambil mengomel betapa susah cari tukang sol yang masih bisa jahit sneakers premium. Mereka bayar tujuh puluh lima sampai seratus dua puluh ribu, dan Pak Mahmud menerima.
Jenis kedua: orang dengan sepatu satu-satunya. Tukang ojek pangkalan yang sol sepatunya sudah selipan dua centimeter. Ibu-ibu yang sepatunya patah hak waktu mau ke pengajian. Anak SMP yang sepatu sekolahnya sudah jebol di ujung, sementara orang tua masih nunggu gajian dua minggu lagi. Mereka bayar lima belas sampai dua puluh ribu, dan Pak Mahmud menerima.
Kalau ada pelanggan jenis kedua yang tidak bisa bayar — dan kadang ada — Pak Mahmud bilang, “Bayarnya bulan depan, ya. Dipakai dulu sepatunya.” Dia tidak catat utang. Setengah pelanggan yang janji bayar bulan depan tidak pernah kembali. Setengah lainnya datang dengan dua puluh ribu plus apa adanya tambahan ucapan terima kasih.
Pak Mahmud tidak pernah hitung berapa untungnya per hari. Kalau dia hitung, dia mungkin akan tutup. Tapi dia sudah empat puluh tahun di sini. Hitungan-hitungan seperti itu sudah lama dia tinggalkan di pintu masuk pasar setiap subuh.