PENJUAL ES CENDOL DI PERIUK
Gerobak Bu Imas berdiri di antara apartemen baru yang menjulang. Dia jualan sepuluh ribu, dan tidak ada yang minta diskon kecuali satu orang.
DITULIS 20 MEI 2026 · 263 KATA
Gerobak es cendol Bu Imas berdiri di pinggir Jalan Cipondoh, dekat persimpangan Periuk. Sebuah gerobak biru tua yang sudah dia pakai selama dua puluh tiga tahun, di belakangnya apartemen tower setinggi lima belas lantai yang baru selesai dibangun tahun ini.
Gerobak Bu Imas dan tower itu adalah dua era yang bertabrakan di satu titik kota. Penghuni tower kerjanya di Jakarta — pulang malam, pakai Grab dari MRT atau dari kantor. Mereka tidak beli cendol di Bu Imas. Mereka beli kopi specialty di kedai yang baru buka di lantai dasar tower, harga empat puluh lima ribu segelas.
Pelanggan Bu Imas: tukang ojek pangkalan, anak-anak SD yang baru pulang sekolah, ibu-ibu yang turun ke warung, dan sopir-sopir delivery yang mampir di antara order. Harga es cendol Bu Imas: sepuluh ribu segelas. Sudah lima tahun tidak naik.
Tidak ada yang minta diskon di Bu Imas. Sepuluh ribu sudah dianggap fair. Kecuali satu orang.
Pak Suhaimi, tukang ojek pangkalan di seberang gerobak. Setiap kali order sepi — biasanya antara jam dua sampai jam tiga sore — dia datang ke Bu Imas dan bilang, “Mas, tukar yang ini buat es cendol ya.” Lalu dia menyodorkan dua bungkus rokok kretek setengah jadi yang masih utuh. Bu Imas memberi es cendol dan menerima rokok yang dia sebenarnya tidak butuhkan, lalu memberi rokok itu ke tukang parkir di gang sebelah.
Begitu terus dua kali seminggu, sudah tujuh tahun. Bu Imas tidak pernah minta uang dari Pak Suhaimi, dan Pak Suhaimi tidak pernah minta es cendol tanpa membayar rokok. Kontrak sosial yang sopan, tidak ada yang merugi.