CERITA
TANGERANG

RISO ZINE · ED. PERTAMA · 2026

← Daftar isi

№ 56

ANAK RANTAU PULANG CIKUPA

Mbak Lia pulang ke Cikupa setelah delapan tahun di Surabaya. Bapaknya menjemput di Stasiun Tigaraksa dengan motor Vario yang sama dari 2018.

Mbak Lia 27 tahun, pulang ke Cikupa setelah delapan tahun di Surabaya. Berangkat dari Stasiun Pasar Turi pukul lima sore kemarin, tiba di Stasiun Tigaraksa pukul tujuh pagi hari ini. Bawaan: dua koper sedang, satu tas ransel, satu kotak oleh-oleh — lapis Surabaya, kerupuk udang, kopi kering Sidoarjo.

Bapaknya, Pak Damiri, 58 tahun, sopir angkot 04 yang sudah pensiun tahun lalu, menjemput dengan motor Vario yang sama dari 2018 — motor yang dipakai Mbak Lia waktu SMA untuk ke sekolah. Sudah dua kali ganti rantai. Catnya pudar di tank.

Mbak Lia naik di belakang. Bapak agak lebih kurus dari delapan tahun lalu. Rambutnya beruban. Tangan yang pegang stang motor kelihatan keriput.

Rumah orang tua di Bunder Cikupa, gang sempit di belakang pabrik elektronik. Rumah satu lantai, dua kamar, dapur di belakang. Sudah berdiri sejak 1996, beberapa kali direnovasi sedikit-sedikit.

Yang Mbak Lia perhatikan saat masuk: cat dinding luar yang masih warna krem yang sama dari delapan tahun lalu. Foto pernikahan ortunya di dinding ruang tamu, sekarang berdebu. Buku-buku SMA-nya di rak yang sudah dilapis sarang laba-laba.

Ibu, Bu Sumiati, 55 tahun, sudah masak dari subuh. Nasi liwet, ayam goreng kremes, sambal terasi, lalapan. Menu yang Mbak Lia ingat dari SMA — yang dia kangen tapi tidak pernah dia coba bikin sendiri di kos Surabaya.

Mbak Lia sekarang bekerja di kantor konsultan pajak di Sudirman Jakarta — pindah dari Surabaya bulan depan, gaji 18 juta. Dia akan tinggal di kos BSD, jarak satu jam dari Cikupa.

Setelah sarapan, Mbak Lia duduk di kursi plastik teras. Bapak ikut duduk di sebelah. Tidak banyak ngobrol. Cuma teh panas. Cuma angin pagi Cikupa.

Ibu di dapur mencuci piring. Pelan-pelan.


Tukang Foto Pernikahan Cilenggang

Suami Istri Warung Curug

↑ Daftar isi