DRIVER BUS PATAS PORIS-BOGOR
Pak Marwan sopir bus patas trayek Poris-Bogor selama 19 tahun. Lewat tol JORR setiap hari. Sudah hafal kapan tiap KM macet.
DITULIS 10 JULI 2026 · 274 KATA
Pak Marwan 47 tahun, sopir bus patas trayek Poris-Bogor selama 19 tahun. PO bus tempat dia kerja: PO Sinar Jaya — dipusatkan di Cilegon, ada terminal kecil di Poris. Bus yang dia bawa: Mercedes Benz OH 1626 keluaran 2018.
Trip sehari: dua kali (Poris-Bogor PP). Berangkat pertama pukul lima pagi, balik pukul setengah dua siang. Berangkat kedua pukul tiga sore, balik pukul setengah sebelas malam. Jeda istirahat dua jam di Bogor.
Gaji pokok: 3.5 juta sebulan. Plus uang setoran (selisih penjualan tiket dikurangi target): bervariasi 1.5-3 juta. Plus tip penumpang. Total: 6-9 juta sebulan.
Asisten Pak Marwan: Pak Doli, 35 tahun, kondektur. Tugas Pak Doli: tagihan tiket, atur barang penumpang, ngobrol dengan terminal kapan keberangkatan.
Yang Pak Marwan hafal dari tol JORR setelah 19 tahun nyetir: KM 6 sering macet pukul tujuh pagi karena exit ramp Bintaro. KM 12 sering macet pukul lima sore karena exit Pondok Indah. KM 22 sering macet kalau hujan karena drainase buruk.
Penumpang harian: 32-42 orang per trip pagi (kapasitas bus 48), 18-30 orang per trip sore. Mayoritas pekerja kantor di Jakarta yang tinggal di Bogor, atau sebaliknya. Beberapa pelanggan tetap yang Pak Marwan hafal wajahnya dan tujuannya.
Yang Pak Marwan lihat dari kaca depan bus setiap hari: kemacetan Jakarta-Tangerang yang sama dari tahun 2007 sampai sekarang. Mobil pribadi tambah banyak. Bus AKAP tambah sedikit. Penumpang muda pindah ke kereta atau ojol untuk jarak pendek.
Istri Pak Marwan, Bu Tatik, jualan toko sembako kecil di Poris. Anak tiga: yang sulung sudah kerja, yang tengah SMA, yang bungsu SMP.
Setiap pagi pukul empat dini hari Pak Marwan berangkat dari rumah. Bu Tatik bangun, buat kopi.
Tidak banyak ngobrol. Tidak perlu.
DITULIS OLEH Iqbal Maulana