CERITA
TANGERANG

RISO ZINE · ED. PERTAMA · 2026

← Daftar isi

№ 64

TUKANG BENSIN ECERAN CISOKA

Pak Diman jual bensin eceran di pinggir jalan Cisoka-Adiyasa sejak 2003. Botol Aqua 1 liter, harga 12 ribu. Pelanggan setia: tukang ojek dan ibu-ibu antar anak sekolah.

Pak Diman 57 tahun, jualan bensin eceran di pinggir jalan Cisoka-Adiyasa. Sudah 23 tahun, sejak 2003. Lapak: satu meja kayu panjang 1.5 meter, satu rak besi tiga tingkat berisi 18 botol Aqua 1 liter, satu corong plastik, satu kaleng tempat uang.

Bensin yang dia jual: Pertalite (dia panggil “bensin biasa”) 12 ribu per liter botol, Pertamax (dia panggil “bensin merah”) 15 ribu per liter botol. Harga pasaran SPBU resmi: 10 ribu dan 13.500. Selisih: 2 ribu per liter sebagai keuntungan.

Modal ambil dari SPBU Cikupa: dia datang pukul subuh dengan jerigen 25 liter, isi penuh, bayar tunai. Bawa pulang naik motor bebek Suzuki Smash tahun 2005 yang masih jalan. Lalu tuang ke botol-botol Aqua di lapak.

Penjualan harian: 18-30 botol Pertalite, 4-8 botol Pertamax. Penghasilan kotor: 280-450 ribu. Bersih setelah modal: 75-130 ribu. Sebulan: 2.5-4 juta.

Pelanggan tetap Pak Diman: tukang ojek pangkalan Cisoka (delapan orang), ibu-ibu yang antar anak sekolah dengan motor matic, sopir truk pasir yang sering kehabisan di tikungan, sesekali pemudik yang lupa isi.

Yang Pak Diman tahu sejak Pertamina ketat soal Pertalite subsidi: tukang eceran seperti dia tidak dilarang ambil di SPBU, asal volume kecil. Tapi sekarang harus pakai aplikasi MyPertamina kalau ambil banyak. Pak Diman tidak punya HP smartphone. Anaknya yang download di HP-nya.

Istri Pak Diman, Bu Sukinem, juga punya lapak di samping — jualan rokok eceran, permen, dan minuman dingin di kulkas mini. Penghasilan dia 70-100 ribu sehari.

Yang Pak Diman tahu: usaha eceran ini tidak bertahan lama. Anak muda sudah pakai motor listrik. Sepuluh tahun lagi, mungkin kosong.

Tapi belum.

Hari ini Selasa, masih ramai.


Driver Bus Patas Poris-Bogor

Magang Tower BSD Lantai 21

↑ Daftar isi