TUKANG ROTI KELILING CIBODAS
Pak Yuda jualan roti keliling pakai motor honda 70 sejak 2010. Klakson terompet dia bunyikan setiap dua tiang listrik. Anak-anak Cibodas hafal jadwalnya.
DITULIS 1 JULI 2026 · 264 KATA
Pak Yuda 40 tahun, tukang roti keliling Cibodas. Motor: Honda C70 keluaran 1981 yang sudah tiga kali rebuild mesin, sekarang lebih sering jadi properti tukang foto daripada motor roti. Kotak roti dari kayu jati belakangnya, ukuran 80x40x60 cm, isinya 80-120 bungkus roti.
Roti yang dia jual: roti tawar 8 ribu, roti pisang 5 ribu, roti coklat 5 ribu, roti keju 6 ribu, roti sosis 7 ribu. Diambil dari pabrik roti rumahan di Periuk, harga grosir 60-70% dari harga jual.
Rute: Senin RW 01-02, Selasa RW 03-04, Rabu RW 05-06, Kamis RW 07-08, Jumat-Sabtu di sekitar Pasar Cibodas dan jalan utama. Hari Minggu libur untuk istirahat dan service motor.
Klakson terompet — terompet plastik yang dia tempel di stang motor — dia bunyikan setiap dua tiang listrik. Tiga kali pendek. Itu kode khas dia. Anak-anak Cibodas hafal. Begitu dengar, lari ke pintu, panggil ibu, minta uang 5-7 ribu untuk beli roti.
Penghasilan harian: 350-500 ribu kotor. Bersih setelah modal grosir, bensin, oli: 100-180 ribu. Sebulan rata-rata 3.5-4.5 juta.
Pak Yuda tinggal di kontrakan dua petak di belakang Pasar Cibodas, 750 ribu sebulan. Istri ibu rumah tangga, dua anak SD.
Yang Pak Yuda amati setelah 16 tahun keliling: anak-anak yang dulu lari ke pintu sambil teriak “tukang roti!” sekarang sudah SMA atau kuliah, sebagian sudah pindah ke kos di Jakarta. Wajah baru menggantikan mereka. Anak baru lari ke pintu dengan teriakan sama.
Roti yang dia jual juga sama. Resep pabrik tidak berubah sejak 2010. Cuma harga grosir naik perlahan.
Pukul lima sore Pak Yuda pulang. Kotak roti masih sisa 12 bungkus. Anak-anaknya makan untuk sarapan besok.
DITULIS OLEH Iqbal Maulana