NELAYAN PANTAI TANJUNG KAIT
Pak Salim nelayan di Tanjung Kait, melaut tiga hari sekali. Pulang membawa 15-20 kilo ikan kalau beruntung. Cuaca tidak lagi seperti dulu.
DITULIS 29 JUNI 2026 · 286 KATA
Pak Salim 42 tahun, nelayan di pantai Tanjung Kait, Mauk. Perahu kayu sepanjang 5.8 meter dengan motor diesel 16 PK yang dia rakit ulang lima tahun lalu. Jaring nilon sepanjang 70 meter. Dua orang awak — adik sendiri dan keponakan — yang kadang dibawa, kadang dia melaut sendiri.
Melaut tiga hari sekali. Berangkat pukul dua dini hari, pulang pukul sepuluh pagi. Tujuan: 5-8 km dari pantai, di sekitar muara dan tepi karang dangkal yang biasanya jadi tempat ikan kerapu, kembung, dan teri.
Hasil rata-rata sekali melaut: 15-20 kilo ikan campur. Harga jual ke pengepul di Pasar Mauk: 18-35 ribu per kilo tergantung jenis. Pendapatan kotor sekali melaut: 350-650 ribu. Bersih setelah solar (80 ribu), oli mesin (proporsi), bagi dengan awak: 150-280 ribu untuk Pak Salim sendiri.
Yang Pak Salim tahu setelah 24 tahun melaut: pantai Tanjung Kait berubah. Karang dangkal yang dulu jadi tempat ikan kerapu berkembang biak, sebagian mati tahun 2019-2022 karena suhu air naik. Musim angin barat yang dulu jelas — November sampai Februari — sekarang bisa datang Oktober atau menetap sampai April.
Lima tahun lalu, dengan perahu yang sama dan jaring yang sama, Pak Salim bisa pulang dengan 25-35 kilo. Sekarang 15-20. Ikan tidak hilang sepenuhnya. Hanya pindah, makin jauh dari pantai, ke kedalaman yang motor 16 PK Pak Salim tidak sanggup capai.
Istri Pak Salim, Bu Aminah, jualan ikan di Pasar Mauk. Modal awal pinjam dari Pak Salim, sekarang punya etalase sendiri. Penghasilan 200-400 ribu sehari.
Anak Pak Salim tiga. Yang sulung kelas dua SMA di Kosambi, ingin jadi pelaut komersial. Yang tengah SMP. Yang kecil masih TK.
Sulungnya tahun depan UTBK. Pak Salim diam-diam menyimpan uang untuk biaya pendaftaran.
Apakah dia ingin anaknya melanjutkan melaut?
Pak Salim tidak menjawab kalau ditanya.
DITULIS OLEH Iqbal Maulana