IBU DRIVER GOJEK CILEDUG
Ibu Yanti, 47, sudah tiga tahun jadi driver Gojek di Ciledug — tahu setiap jalan tikus, tahu kapan harus matiin aplikasi, dan tahu angkanya masih belum cukup.
DITULIS 23 JUNI 2026 · 1089 KATA
Pukul 05:00. Alarm tidak berbunyi — Ibu Yanti sudah bangun dua menit sebelumnya.
Ia 47 tahun, tinggal di gang sempit di Ciledug Selatan, rumah kontrakan dengan dua kamar dan dinding yang mulai mengelupas di sudut dekat jendela. Suaminya pergi empat tahun lalu. Dua anak masih sekolah: yang pertama kelas dua SMA, yang kedua kelas lima SD.
Di dapur, ia memanaskan nasi sisa semalam, menggoreng telur dua butir, memotong tempe yang sudah direndam bumbu sejak tadi malam. Semuanya dilakukan dengan gerakan yang tidak membuang waktu — bukan terburu-buru, tapi efisien seperti orang yang sudah melakukan hal yang sama ribuan kali.
Handphone-nya di atas meja. Aplikasi Gojek terbuka. Order pertama biasanya masuk antara 05:30 dan 06:00.
Trip pertama: ibu rumah tangga ke Pasar Ciledug. Dua kilometer. Rp 9.000 setelah potongan platform.
Trip kedua: anak SMA ke sekolah di Karang Tengah. Tujuh kilometer. Rp 14.000.
Trip ketiga dan keempat datang berturut-turut dalam rentang satu jam — dua karyawan pabrik menuju kawasan industri di pinggiran Ciledug. Mereka tidak banyak bicara. Ibu Yanti juga tidak memaksa percakapan. Motor melaju di jalan yang sudah ia hafal seperti hafal nama-nama tetangganya.
Ia tahu jalan tikus dari Ciledug ke Kalideres mana yang menembus tanpa lampu merah, jam berapa persimpangan di dekat Pasar Cipadu mulai macet, dan rute belakang mana yang lebih cepat kalau ada pasar tumpah Selasa pagi. Pengetahuan ini tidak tercatat di Google Maps. Ia kumpulkan sendiri, tiga tahun, trip demi trip.
Shift pagi berlangsung sampai sekitar 10:00. Lima atau enam trip, tergantung jarak. Hari baik bisa delapan.
Pak Budi sudah tiga bulan jadi pelanggan tetapnya. Ia pesan hampir setiap hari kerja, rute yang sama: dari perumahan kecil di belakang Ciledug ke kantor di daerah Bintaro. Dua belas kilometer, macet sedang.
Pagi ini ia naik seperti biasa, menaruh tas di depan lutut, mengunci helm.
“Gimana, Bu? Ramai?”
“Lumayan.” Ibu Yanti memeriksa cermin, lalu masuk ke arus jalan. “Tapi baru impas.”
Pak Budi mengangguk. Ia tidak bertanya apa yang dimaksud ‘impas’. Mereka sama-sama tahu — bensin, pulsa, makan siang, cicilan handphone yang sudah dua kali diperbaiki layarnya. Angka masuk dan angka keluar yang bertemu di titik nol setiap akhir hari.
Tidak ada yang mereka tambahkan. Motor terus melaju. Dua belas kilometer, macet sedang, sampai di depan kantor Pak Budi pukul 08:47.
“Makasih, Bu.”
“Sama-sama.”
Siang hari lebih sepi. Antara 11:00 dan 14:00, order datang lebih jarang dan sering berjarak jauh dari posisinya. Ibu Yanti parkir motor di bawah pohon dekat Pasar Ciledug, membeli segelas es teh dari warung yang sudah ia kenal pemiliknya, dan menunggu.
Di bangku sebelah, dua driver laki-laki. Yang satu muda, akhir dua puluhan, memakai jaket hijau yang sudah pudar warnanya.
“Ibu nggak ambil food?” tanya pria itu. “GoFood lebih stabil sekarang. Resto pada promosi.”
“Lebih suka penumpang.”
“Tapi nunggunya lama, Bu. Di restoran bisa duduk.”
Ibu Yanti menyesap teh. “Bisa ngobrol,” katanya.
Pria itu tertawa kecil, setengah tidak mengerti. Tapi Ibu Yanti tidak melanjutkan penjelasannya. Bagi dia, penjelasannya sudah lengkap.
Penumpang adalah orang. Orang punya tujuan, punya nama, kadang punya cerita yang keluar sendiri tanpa diminta. Hari-hari yang panjang terasa lebih pendek kalau ada yang duduk di belakang. GoFood tidak punya itu — hanya kantong plastik, nama resto, dan alamat yang sama seperti koordinat di layar.
Pukul 14:00, ia mematikan aplikasi.
Bukan karena order sepi — kadang masih ada. Ia mematikan karena ini jamnya.
Pulang ke rumah. Mencuci beras. Setrika seragam anaknya yang bungsunya selalu lupa menaruh di gantungan. Mandi. Duduk sebentar di kursi plastik di depan pintu, mata setengah terpejam.
Pukul 15:30, aplikasi menyala lagi.
Sesi sore berbeda temponya dari sesi pagi. Order lebih panjang — orang pulang kantor, mahasiswa, ibu yang belanja terlambat. Arus lalu lintas lebih padat tapi lebih terprediksi. Ibu Yanti melewati jalan-jalan yang sama dengan pagi, tapi dari arah berlawanan, dalam cahaya yang sudah bergeser ke oranye.
Ia sampai rumah pukul 18:45. Anak pertamanya sudah mulai masak — nasi sudah matang, ada sayur bening di panci.
“Udah masak?” tanya Ibu Yanti.
“Tinggal lauk.”
Mereka makan pukul 19:00. Bertiga. Anak bungsunya cerita tentang ulangan matematika yang nilainya enam puluh dua. Ibu Yanti mendengarkan sambil memastikan lauknya cukup untuk tiga porsi. Cukup.
Pukul 21:00, kedua anaknya masuk kamar. Yang pertama untuk belajar, yang kedua untuk tidur.
Ibu Yanti duduk di ruang tamu kecil yang merangkap ruang makan. Lampu satu-satunya menyala kuning redup. Ia mengambil handphone-nya — bukan buka aplikasi Gojek, bukan scrolling media sosial.
Ia membuka aplikasi koperasi kredit tempatnya menabung.
Layar menampilkan saldo tabungan. Angka yang sama seperti minggu lalu, ditambah tiga ratus ribu dari setoran kemarin. Tiga tahun ia nabung di sini, sedikit-sedikit, di celah-celah antara bensin dan keperluan anak.
Masih belum cukup.
Target yang ia pasang — tidak ia sebut ke siapa pun, tidak ia tulis di mana pun — masih di atas angka di layar itu. Berapa jauh lagi, ia tahu. Tapi ia tidak menghitung malam ini.
Ia menutup aplikasi.
Pukul 20:00. Bukan tidur — shift ketiga.
Ia ambil kunci motor dari gantungan di dekat pintu. Masukkan handphone ke saku jaket. Buka aplikasi Gojek, status: online.
Pintu depan dikunci dari luar. Satu klik.
Motor dipanaskan sebentar. Lampu gang menyala redup di atas kepala. Tidak ada tetangga yang keluar. Tidak ada yang melihat ia pergi.
Ibu Yanti masuk ke jalan, bergabung ke arus malam Ciledug yang tidak pernah benar-benar berhenti.
Shift ketiga: 20:00 sampai 22:00.
DITULIS OLEH Iqbal Maulana