KULI PROYEK TOWER SUMMARECON
Pak Tarjo dan empat teman dari Wonogiri kerja proyek tower 22 lantai di Summarecon Serpong. Upah harian 270 ribu. Tinggal di barak proyek dua tahun.
DITULIS 8 JULI 2026 · 277 KATA
Pak Tarjo 43 tahun, kuli proyek dari kampung Wonogiri. Datang ke Summarecon Serpong dua tahun lalu untuk proyek tower mixed-use 22 lantai. Bersama empat teman dari kampung yang sama: Pak Slamet, Pak Wagiman, Pak Suparjo, dan Mas Yono yang paling muda (29 tahun).
Spesialisasi Pak Tarjo: scaffolding dan pengecoran lantai atas. Bagian paling berisiko di proyek tower. Pakai harness, helm proyek, sepatu safety yang sudah dia ganti tiga kali selama dua tahun.
Upah harian: 270 ribu untuk pekerjaan biasa, 320 ribu kalau bekerja di lantai 15 ke atas, 380 ribu untuk pekerjaan crane atau night shift. Rata-rata sebulan dia dapat 7.5-9 juta kotor.
Barak proyek: bangunan sementara dari triplek dan seng. 40 ranjang dua tingkat di ruangan besar. Dapur bersama dengan kompor gas tabung 12 kilo. Kamar mandi enam pintu untuk 80 orang. AC tidak ada. Kipas angin sembilan unit dari developer.
Yang Pak Tarjo kirim ke kampung Wonogiri lewat transfer BRI: 1.8-2 juta per minggu. Istrinya, Bu Yatmi, urus dua anak (SMA dan SMP) plus orang tua mertua yang stroke. Dia tidak bisa pulang kecuali Lebaran.
Mudik per tahun: dua kali (Lebaran dan tahun baru). Tiket bus Pulogadung ke Wonogiri: 280-340 ribu sekali jalan. Lima hari di rumah, lalu balik.
Yang Pak Tarjo lihat dari lantai 22 setiap pagi pukul tujuh setelah naik tangga 22 lantai (lift proyek sering rusak): kota Tangerang membentang sampai ke horizon. Stasiun Rawa Buntu, sungai Cisadane, BSD Plaza, jauh di belakangnya tower-tower lain yang lagi dibangun.
Tower yang dia bangun akan dijual 1.4 miliar per unit untuk yang 2 kamar. Pak Tarjo seumur hidup tidak akan sanggup beli.
Proyek selesai bulan depan. Lalu pindah ke proyek berikutnya.
Belum tentu di Tangerang.
DITULIS OLEH Iqbal Maulana