MAGANG TOWER BSD LANTAI 21
Mbak Tasya magang di startup fintech di tower BSD lantai 21. Bulan kedua, gaji 1.5 juta. Pemandangan dari lantai 21: bukit-bukit Bogor yang tertutup kabut pagi.
DITULIS 12 JULI 2026 · 288 KATA
Mbak Tasya 22 tahun, mahasiswa semester delapan jurusan ekonomi di kampus negeri di Depok. Mulai magang di startup fintech yang berkantor di tower Green Office Park BSD lantai 21, sejak bulan Maret. Sekarang sudah dua bulan.
Gaji magang: 1.5 juta sebulan, plus tunjangan makan 25 ribu per hari (yang dia dapat sebagai voucher kantin di lantai dasar tower).
Jam kerja: pukul sembilan pagi sampai pukul enam sore. Kerja di divisi product analytics, kerjaannya analisis data user growth, bikin laporan minggon untuk PM, sesekali wawancara user.
Kantor: open space, 80 meja, AC dingin sekali, pemandangan dari kaca depan menghadap selatan — kalau cerah bisa lihat bukit-bukit Bogor yang biru, kalau berkabut pagi cuma kabut.
Yang Mbak Tasya lihat dari lantai 21 setiap pagi pukul setengah sembilan: pertama-tama kabut yang menutupi BSD, lalu kabut pelan menghilang seiring matahari naik, lalu kota Tangerang Selatan kelihatan jelas — jalan tol JORR, mall, dan tower-tower lain yang sama tinggi atau lebih tinggi.
Yang Mbak Tasya pelajari dalam dua bulan: kerja kantor di tower lantai 21 itu sederhana. Kursi ergonomis, kopi gratis, snack gratis di pantry, AC dingin. Tapi yang menguras adalah ekspektasi yang tidak tertulis — slack notif jam sebelas malam yang harus dijawab, meeting yang tidak perlu dia datangi tapi tidak berani menolak, perasaan harus selalu produktif.
Tempat tinggal Mbak Tasya: kos di Pamulang, 1.4 juta sebulan, kamar 3x4 meter ber-AC. Naik shuttle BSD Link setiap pagi pukul tujuh. Pulang pukul tujuh malam.
Bapaknya guru SMP di Bekasi, ibu ibu rumah tangga. Magang ini Mbak Tasya ambil tanpa kasih tahu ortu kalau gajinya tidak cukup menutupi kos. Sisa biaya dia subsidi dari tabungan part-time semester lalu.
Pukul lima sore matahari mulai turun.
Mbak Tasya tutup laptop, scroll lowongan kerja full-time di LinkedIn.
DITULIS OLEH Iqbal Maulana