MAHASISWA UMT MAGANG SENDIRI
Mas Fadli mahasiswa semester tujuh UMT, magang di startup BSD selama tiga bulan. Tanpa upah. Pulang naik KRL setiap malam dari Serpong ke Cikokol.
DITULIS 18 JUNI 2026 · 280 KATA
Mas Fadli 21 tahun, mahasiswa semester tujuh jurusan teknik informatika Universitas Muhammadiyah Tangerang. Tinggal di rumah orang tua di Cikokol — gang sempit di belakang Pasar Lama, dua kamar untuk lima orang.
Tiga bulan ini Mas Fadli magang di startup edtech di Green Office Park BSD. Status: magang merdeka. Upah: nol rupiah. Yang dia dapat: sertifikat, akses ke Slack tim, dan satu mug branded perusahaan.
Rutinitas harian: bangun pukul lima, sarapan nasi uduk Bu Sariah 8 ribu di ujung gang, jalan kaki 12 menit ke Stasiun Tanah Tinggi, naik KRL Commuter Line ke Stasiun Rawa Buntu, sambung ojol Maxim 15 ribu ke kantor di BSD. Total transport: 32 ribu sekali jalan.
Jam kerja: pukul sembilan sampai pukul enam. Tapi sering lembur sampai pukul sembilan karena ada bug yang harus dia debug, atau supervisor minta tambahan task untuk presentasi besok. Lembur tanpa kompensasi.
Yang Mas Fadli kerjakan: bantu develop fitur kecil di aplikasi mobile, testing manual, dokumentasi API, sesekali bantu desain mockup. Pengalaman yang dia cantumkan di LinkedIn — yang dia bersihkan dari tanda “intern” supaya terlihat seperti pengalaman penuh.
Yang menutupi pengeluarannya: orang tua. Bapak sopir bus AKAP rute Jakarta-Yogya, gaji 5.5 juta. Ibu jualan kue di warung depan rumah, 2-3 juta. Adik dua, masih SMP dan SD.
Penghematan Mas Fadli: bawa bekal nasi dari rumah, minum air dari dispenser kantor, tidak ikut makan siang tim di kafe (rata-rata 45 ribu sekali makan).
Tujuannya: setelah magang dia berharap di-hired full-time. Tapi kemarin HR bilang budget perusahaan ketat. Belum tentu ada slot.
Pukul sepuluh malam Mas Fadli pulang naik KRL terakhir dari Rawa Buntu. Gerbong sepi. Dia buka laptop, lanjut ngerjakan task untuk besok pagi.
Dia tidak tahu hasilnya akan diapakan.
DITULIS OLEH Iqbal Maulana