PETANI CISOKA LIMA HEKTAR
Pak Hadi petani padi di Cisoka, lima hektar warisan bapaknya. Anaknya tiga, tak satu pun mau melanjutkan bertani. Yang sulung kerja di pabrik elektronik Cikupa.
DITULIS 27 JUNI 2026 · 266 KATA
Pak Hadi 56 tahun, petani padi di Cisoka, dapil Tigaraksa. Sawah lima hektar warisan bapaknya yang meninggal 2008. Bapaknya pun warisan dari kakeknya yang membuka lahan ini dari hutan tahun 1962.
Empat hektar untuk padi, satu hektar untuk palawija. Satu musim tanam padi: 110-120 hari dari semai sampai panen. Tiga musim setahun kalau lancar. Hasil rata-rata: 5.5 ton gabah kering per hektar. Total per musim: 22 ton.
Harga gabah kering dijual ke tengkulak: 5.500-6.200 per kilo. Sekali musim 22 ton bisa 120-135 juta. Setahun tiga musim: maksimal 400 juta kotor. Setelah biaya benih, pupuk, pestisida, upah buruh tani panen, sewa traktor — bersih 110-160 juta setahun.
Pak Hadi memiliki tiga anak. Yang sulung, Aris, 29 tahun, kerja di pabrik elektronik di Cikupa, gaji UMR 4.6 juta. Yang tengah, Indra, 26 tahun, sopir truk pasir antar daerah, gaji 4-5 juta. Yang bungsu, Sinta, 22 tahun, kuliah keperawatan di Tangerang Kota.
Tak satu pun mau melanjutkan sawah. Aris bilang ke bapaknya tahun lalu, “Pak, sawah itu sudah cukup buat Bapak. Bukan untuk saya.”
Pak Hadi tidak marah. Dia paham. Anaknya melihat dia 30 tahun bertani — kena banjir tahun 2007, kena hama wereng 2013, kena harga turun karena beras impor 2018, kena kekeringan 2022. Lima hektar tidak menjamin kestabilan apa pun.
Yang Pak Hadi rencanakan sekarang: jika dia sudah tidak kuat lagi, sawah akan dijual. Sudah ada tawaran dari pengembang dari Jakarta — 800 juta per hektar. Total 4 miliar untuk lima hektar. Uang itu dia bagikan tiga anaknya.
Pak Hadi turun ke sawah pagi ini. Padi sudah menguning, dua minggu lagi panen.
Mungkin panen terakhir di tangannya.
DITULIS OLEH Iqbal Maulana